Jul 16, 2011

Epistemologi Ilmu

Sains (Ilmu) adalah sistem pengetahuan dibidang tertentu yang bersifat umum, sistematis, metodologis, logis, objektif, empiris, memuat dalil-dalil tertentu menurut kaidah umum, berguna untuk mencari kebenaran ilmiah yang kemudian bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup manusia. Ilmu merupakan  kumpulan pengetahuan yang menjelaskan hubungan sebab akibat suatu objek yang diteliti berdasarkan metode tertentu, yang merupakan satu kesatuan sistematis. Sementara itu, pengetahuan merupakan bentukan pola pikir asosiatif antara pikiran dan kenyataan yang didasarkan pada kumpulan pengalaman sendiri/orang lain di suatu bidang tertentu tanpa memahami hubungan sebab akibat yang hakiki dan universal diantaranya sehingga tidak masuk dalam kelompok ilmu karena belum dapat menjelaskan pertanyaan mengapa. Filsafat ilmu terutama diarahkan pada komponen‑komponen yang menjadi tiang penyangga eksistensi ilmu, yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi.

Ontologi (hakikat apa yang dikaji)

Dalam kajian ontologis, objek dibahas dari keberadaannya mencakup lingkup batas jati diri (being) dan keberadaan eksistensi penelaahan objek (sasaran) keilmuan serta penafsiran tentang hakekat (kenyataan) yang khas dari objek keilmuan, guna membentuk konsep tentang objek (alam nyata, baik universal ataupun spesifik). Pemahaman ontologik meningkatkan pemahaman manusia tentang sifat dasar berbagai benda yang akan menentukan pendapatnya tentang apa dan bagaimana (yang) ada sebagai manifestasi kebenaran yang dicarinya. Beberapa contoh pertanyaan yang merupakan persoalan ontologi misalnya apa eksistensi dari zat padat? Apa itu sel? Bagaimana penjelasan elektronik, termodinamika atau hukum gravitasi?

Epistemologi (filsafat ilmu)

Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan yang terkait dengan cara memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai ilmu pengetahuan membahas tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, sarana, metode atau cara memperoleh pengetahuan, validitas dan kebenaran ilmu.

Perbedaan landasan ontologik menyebabkan perbedaan dalam menentukan metode yang dipilih dalam upaya memperoleh pengetahuan yang benar. Rasio, pengalaman, atau kombinasi akal dan pengalaman, intuisi, merupakan sarana mencari pengetahuan yang dimaksud dalam epistemologik, sehingga dikenal model‑model epistemologik seperti rasionalisme, empirisme, rasionalisme kritis, fenomenologi dan sebagainya. Di dalam epistemologi juga dibahas bagaimana menilai kelebihan dan kelemahan suatu model epistemologik be­serta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah), seperti teori ko­herensi, korespondesi pragmatis, dan teori intersubjektif.

Jika seseorang ingin membuktikan kebenaran suatu pengetahuan (ilmu), maka cara, sikap, dan sarana yang digunakan untuk membangun ilmu tersebut harus benar. Ilmu tentang suatu objek dikembangkan berdasarkan analisis yang sistematis (metode ilmiah) menggunakan nalar yang logis. Metode ilmiah menggabungkan cara berpikir deduktif dan induktif sehingga menjadi jembatan penghubung antara penjelasan teoritis dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris dan menggunakan bahasa, matematika dan statistika sebagai sarana berpikir ilmiah. Kebenaran ilmu dilihat dari kesesuaian artinya dengan fakta (kenyataan empiris) yang ada, dengan putusan-putusan lain yang telah diakui kebenarannya dan tergantung kepada berfaedah tidaknya teori tersebut bagi kehidupan manusia.

Secara rasional, ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, dan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai fakta dengan yang tidak sehingga terjadi penyempurnaan teori atau paradigma yang akhirnya membawa ilmu tersebut menjadi sains normal.  Contohdari epistemologi ilmu dibahas dalam materi sains normal.

Aksiologi ilmu (nilai kegunaan ilmu)

Aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Ilmu tidak bebas nilai. Artinya, netralitas ilmu hanya pada ontologis keilmuan sementara dalam penggunaannya harus berlandaskan moral dan ditujukan untuk kebaikan manusia tanpa merendahkan martabat atau mengubah hakikat kemanusiaan. Tiga hal yang mendasari alasan ini adalah: secara faktual telah diketahui bahwa ilmu digunakan untuk tujuan destruktif (perang); perkembangan ilmu memungkinkan ilmuwan memprediksi ekses yang mungkin timbul jika terjadi penyalahgunaan ilmu dan perkembangan ilmu telah sedemikian rupa sehingga berpeluang mengubah manusia dan kemanusiaan yang paling hakiki seperti pada kasus revolusi genetika dan rekayasa sosial.  Agar kegunaan ilmu itu tidak menjadi bencana bagi manusia dan kemanusiaan, maka seorang ilmuwan haruslah melandasi kegiatan ilmiahnya dengan asas-asas moral dan kode etik profesinya dengan penuh tanggung jawab.